Berbagi Pengalaman Kerja di PT. Astra Daihatsu Motor


Pengalaman Kerja di PT. Astra Daihatsu Motor
(15 September 2005 – 27 Juli 2007)

Hari Jum’at 16 September kami sampai di depan masjid Astra Internasional kemudian berjalan kaki dengan barang bawaan kami sekitar 1 km untuk menuju tempat persinggahan pertama kami di Jakarta. Kami sampai di ruang sempit sekitar 5x5m yang harus ditempati 24 orang di pemukiman dekat pembuangan sampah dan di tepi sungai tempat pembuangan limbah industri. Hari itu merupakan awal di mana kami mulai hidup mandiri secara ekonomi, pada pukul 15.00 WIB  kami menandatangani kontrak kerja di PT. Astra Daihatsu Motor, Jakarta Utara. Selama 3 hari pertama, kami menjalani pelatihan kedisplinan untuk melatih kecakapan kami dalam bekerja. Diawali dengan bangun pagi, pukul 06.45 kami harus sudah sampai di tempat pelatihan dan berlari tujuh kali putaran Head Office PT.Astra International tanpa diselingi berjalan, istirahat, apalagi berhenti. Setelah itu kami masuk dalam ruangan secara teratur untuk mendapatkan materi mengenai etika kerja yang berlaku di PT. Astra Daihatsu Motor. Hal yang paling kami ingat dan yang masih sering kami bawa sampai saat ini adalah sapaan “Selamat Pagi” yang harus diucapkan setiap waktu kami bertegur sapa, karena bagi orang-orang di Astra tidak ada siang dan malam, kami harus selalu bersemangat seperti di pagi hari meskipun waktu sudah senja atau larut malam.
Setelah 3 hari berlalu, kami datang kembali ke Head Office PT. Astra Internasional untuk melihat informasi di manakah kami akan ditempatkan. Dan hasilnya, saya satu-satunya yang ditempatkan di Plant 2 (Engine Plant/Perakitan mesin). Saat itu lah saya mulai merasa benar-benar akan bekerja dengan lingkungan baru dan terpisah dari semua alumni SMK N 2 Salatiga yang lolos seleksi kerja di PT. Astra Daihatsu Motor. Meskipun kami masih berada di tempat tinggal yang sama tapi kami jarang bertemu satu sama lain karena pembagian shift dan sistem kerja yang padat.
I.         Masa OJT (On The Job Training)
Hari Pertama, saya berangkat kerja mengenakan seragam berwarna biru muda dengan bawahan celana berwarna abu-abu tua. Ada yang berbeda dari saya dengan karyawan lain, yaitu pita berwarna orange di tangan kanan saya dengan tulisan OJT yang harus selalu dipakai selama bekerja, karena itu yang menandakan bahwa saya masih “OJT” (On the Job Training) artinya masih dalam pelatihan dan belum professional seperti yang lain. Masa OJT menandakan bahwa saya belum bertanggung jawab penuh ketika terjadi kerusakan akibat dari kesalahan dalam pekerjaan. Saat itu yang bisa saya lakukan hanya memegang air impact dan mengoperasikannya pada blok silinder yang rusak untuk melatih teknik dan kecepatan dalam memasukkan nut (baut) dalam ulir di blok silinder. Hal itu yang saya lakukan setiap hari selama 1 minggu dari pukul 07.30 setelah senam pagi sampai sampai dengan pukul 16.15 sore, masih  dilengkapi dengan membersihkan area pabrik di saat mesin dan orang-orang masih bekerja. Ini tidak akan terjadi jika tidak ada karyawan baru di Plant 2, hal itu termasuk budaya gojlokan dan sekaligus melatih bahwa saya harus tetap menjaga kebersihan di saat bekerja dengan banyak limbah yang dihasilkan. Karyawan lain hanya melakukan pembersihan area pada saat istirahat dan setelah jam kerja selesai. Senam yang dilakukan setiap pagi sama seperti yang dilaksanakan hari jum’at di SMK N 2 Salatiga adalah untuk pelemasan otot sebelum mulai bekerja. Karena bekerja di PT. Astra tidak jauh berbeda dengan bekerja sebagai seorang atlit. Saya dituntut untuk cepat, tanggap, kuat dan harus mampu meminimalisir kesalahan dalam semua tuntutan itu untuk menghindari terjadinya kecelakaan kerja dan kerusakan yang fatal.
Setelah satu minggu kemudian saya mulai dimasukkan dalam pos kerja untuk menyesuaikan ketepatan kerja dan memperhitungkan waktu. Pada saat itu masih dalam hitungan 2,1 menit untuk menyelesaikan serangkaian pekerjaan dalam satu pos kerja, begitu bekesinambungan sampai dengan rata-rata 285 kali menyelesaikan pekrjaan itu dalam setiap harinya. Pada saat itu saya masih dalam pengawasan dan bimbingan secara langsung di lapangan oleh karyawan senior. Meskipun saya mendapatkan jaminan kesehatan berupa uang kesehatan juga berbagai macam vitamin dan suplemen, rasa lelah tetap tidak bisa dihindari. Karena saat itu adalah saat-saat pertama saya menyesuaikan fisik saya dengan pekerjaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Lambat laun penyesuaian terjadi, saya merasa terbiasa dengan pekerjaan yang menguras tenaga dan otak setiap hari.
II.      Masa Pelepasan Pita OJT
Pita OJT akan dilepaskan setelah masa training selama 3 bulan, demikian yang tertulis pada buku panduan untuk karyawan. Akan tetapi tidak sesuai dengan waktu, Pita OJT saya dilepaskan tepat selama 2 bulan saya bekerja dalam pengawasan senior. Saat pelepasan Pita OJT itu saya dipanggil oleh Plant Manager, dan beliau memberikan pengarahan pada saya bahwa mulai saat itu saya sudah seperti karyawan yang lainnya. Artinya saya harus bertanggung jawab sendiri dengan apapun yang terjadi dalam pekerjaan saya. Karena pita OJT telah dilepas, berarti semua bentuk kesalahan, kelalaian, dan ketepatan kerja adalah tanggung jawab saya secara pribadi. Di situlah saya mulai berkembang dengan kemampuan kerja saya karena pada akhirnya kita dituntut untuk menguasai pos kerja yang lain untuk up-skill, menambah wawasan dan kemampuan, sekaligus memenuhi target persyaratan untuk dapat berprestasi di dunia kerja. Tidak seperti plant yang lain, plant 2 memiliki kebijakan yang bagus yaitu setiap satu bulan sekali plant 2 mengadakan briefing besar untuk mengumumkan 5 kategori dalam prestasi kerja yaitu :
·           Karyawan dengan HRP (kesalahan/kerusakan) minimal
·           Karyawan dengan kebersihan lokasi / pos kerja karyawan
·           Karyawan dengan kecelakaan kerja minimal
·           Karyawan dengan absensi yang penuh (tanpa ijin, sakit, ataupun alpha)
·           Karyawan tanpa pemberhentian line dalam satu bulan
Setiap kategori tersebut akan mendapatka imbalan berupa bingkisan yang cukup lumayan untuk menghemat pengeluaran uang dalam 1 bulan. Karena adanya kebijakan itulah karyawan plant 2 memiliki motivasi untuk berlomba dan menunjukkan prestasi yang baik dalam bekerja. Dan karena kebijakan tersebut, selama 4 tahun terakhir sampai saat saya bekerja di sana Plant 2 mendapatkan trophy dari Hideki Nomura (General Manager PT.Astra International saat itu) sebgai Plant dengan tingkat kecelakaan kerja dan kerusakan paling minimal di seluruh Plant di PT. Astra Daihatsu Motor dan PT. Astra International termasuk mengalahkan rekor Toyota.
III.   Pendapatan
Sampai 6 bulan bekerja, saya masih bertahan di tempat tinggal yang sama dengan 8 teman saya yang sering menyebut tempat itu “Gupon” (rumah burung dara), karena tidak ada tempat tidur yang empuk dan nyaman. Dan 16 teman kami yang lainnya meniggalkan tempat itu untuk mencari tempat yang lebih layak dari pada tempat itu. Saya mengeluarkan biaya 50 ribu rupiah perbulan untuk menyewa tempat itu, tanpa saya ceritakan mungkin sudah terbayang tempat macam apa di Jakarta yang boleh di sewa dengan uang hanya 50 ribu rupiah. Kami istirahat dengan hanya beralas kayu dan karpet plastic, harus bangun jam 03.00 pagi untuk mencuci karena persediaan air terbatas, harus membeli mie instan untuk 1 bungkus di masak 2 kali kemudian hanya membeli nasi di siang dan malam hari. Alasan saya bertahan di tempat itu adalah pada saat itu pendapatan saya masih sangat sedikit, dan lagipula tempat itu jauh dari berbagai macam bentuk penyebab kanker (kantong kering). Tempat itu berada tepat di belakang panti asuhan, di samping sungai yang kumuh dan sedikit terlihat mengalami kesenjangan social. Kami ber-8 tinggal di lantai 2 ruang yang bersisi dan beralaskan papan kayu (semacam loteng) dengan pemilik tempat yang memang kurang mampu. Cukup beralasan karena saat itu gaji yang saya dapatkan tidak cukup meyakinkan untuk bisa memiliki sisa tabungan dalam satu bulan. Pendapatan satu bulan rata-rata Rp.1.100.000,- tidak bisa membuat saya terlalu leluasa bergerak di Jakarta. Biaya untuk makan setiap hari minimal Rp.15.000,- ditambah dengan keperluan setiap hari dan beberapa keperluan yang mendadak ketika ada iuran kampung, air, listrik, peralatan dan pakaian yang hilang, pengamen yang memaksa, dan sakit ataupun yang tak terduga lainnya.
Saat mulai menginjak bulan ke-6 bekerja, pada saat itulah kenaikan gaji saya rasakan karena PT.ADM mengalami peningkatan jumlah produksi. Saat itu saya mendapatkan rata-rata Rp.3.500.000,- perbulan, akan tetapi dengan konsekuensi waktu istirahat berkurang karena si Jepang tidak bisa melihat kalender tanggal merah saat perusahaannya harus memenuhi jumlah permintaan produksi sebanyak 19.000 unit mobil ekspor setir kiri untuk Eropa dalam sebulan. Dengan kondisi semacam itu kami ber-8 sepakat untuk mencari tempat kost yang lebih layak karena kondisi fisik yang harus dijaga untuk memenuhi tuntutan pekerjaan. Kami menyewa 2 kamar kost dengan satu kost diisi 2 orang secara bergantian. Itulah cara yang kami pakai untuk tetap ekonomis dalam pengeluaran. Jadi satu kamar diisi 4 orang akan tetapi diatur untuk shift kerja yang berbeda. Satu kamar dihargai sebesar Rp.200.000,- perbulan, jadi saya tetap hanya mengeluarkan Rp.50.000,- perbulan untuk tempat tinggal yang lebih layak.
Pendapatan lain saya dapatkan dari uang transportasi yang diberikan oleh perusahaan dalam satu bulan sebesar Rp.200.000,- uang itu utuh dan bisa untuk tambahan biaya hidup satu bulan. Saya biasa berjalan kaki dalam perjalanan menuju tempat kerja, jadi uang transport tidak terpakai untuk perjalanan. Selain itu juga sebisa mungkin untuk meminimalisir kemungkinan sakit, karena dalam satu bulan saya mendapatkan tunjangan pengobatan tiap bulan sebesar Rp.135.000,-. Jika tidak ada biaya pengobatan ataupun resep yang harus ditebus maka uang tunjangan kesehatan tersebut bisa dipakai untuk kebutuhan yang lain. Setiap Hari Raya Idul Fitri karyawan PT.ADM mendapatkan 2 kali gaji pokok. Dan setiap akhir tahun akan mendapatkan bonus yang sesuai dengan prestasi dan ketelitian ataupun kelalaian kerja, dalam arti jika prestasi kerja bagus dan tidak ada kerusakan atau kerugian maka bonus akhir tahun akan utuh plus gaji pada bulan Desember. Akan tetapi jika ada kelalaian kerja atau terjadi kerusakan-kerusakan pada komponen-komponen atau peralatan robotic perusahaan, maka bonus akan dipotong untuk mengganti kerugian tersebut.
IV.   Perpindahan Plant
Kembali lagi saya mendapatkan pengalaman yang langka dan tidak didapatkan oleh tman yang lain. Setelah 8 bulan bekerja di Plant 2, pemerintah memberikan surat perintah pindah ke berbagai industry besar di Jakarta karena alasan perbaikan lingkungan setelah Jakarta penuh dengan berbagai macam polusi dan pemanasan global. Termasuk Plat 2 PT. ADM tempat saya bekerja yang mendapatkan surat pindah dan mendapatkan area di Karawang, Jawa Barat. Saat itu Plant 2 diliburkan selama 1 minggu untuk rapat besar dengan General Manager AI. Dan akhirnya muncul keputusan bahwa Plant 2 PT. ADM akan dipindahkan ke Karawang beserta seluruh karyawannya dengan pesangon transportasi sebesar Rp.2.000.000,- untuk semua karyawan kontrak, dan 4.500.000,- untuk semua karyawan tetap. Dan saya satu-satunya karyawan yang menolak untuk pindah ke Karawang karena tempat kerja yang jauh dari pemukiman warga termasuk untuk tempat kost, dan saya tidak memiliki alat transportasi seperti karyawan yang lainnya.
Akhirnya keputusan dikeluarkan bahwa saya di resend ke Plant 4 (Assy Plant/Assembling Plant) yang lokasinya tidak jauh dari lokasi Head Office PT. ADM. Biasanya saya bertemu dengan nut (baut) berukuran mini di Plant 2, kemudian di Plant 4 saya berteman dengan nut (baut) dan air impact yang berukuran jumbo. Ditambah berkenalan dengan moment torque dengan berat 2 kg hingga 5,5 kg dengan jam kerja yang lebih panjang disbanding Plant 2. Biasanya paling lama saya bekerja sampai pukul 17.30 sore, kali ini saya harus bekerja sampai pukul 20.45 malam. Begitu juga yang terjadi pada shift 2 (kerja malam) saya yang bertambah rata-rata 2 jam kerja setiap harinya. Meskipun gaji yang didapatkan di Plant 4 memang jauh lebih besar dibandingkan dengan Plant 2, akan tetapi tingat kelelahannya juga jauh berbeda. Bagi saya memang berat bekerja di Under Body (Assy Plant), namun lambat laun juga akhirnya saya terbiasa. Karena satu keuntungan juga, karena komponen-komponen yang dipasang di Plant 4 jauh lebih besar jadi tidak terlalu rumit dan tidak sesulit pemasangan komponen di Plant 2. Saya kembali harus bersosialisasi dan bekerja sama dengan orang-orang serta budaya yang berbeda. Di plant 2 mayoritas karyawannya adalah orang-orang Jakarta dan Betawi asli, akan tetapi di Plant 4 justru orang-orang Jakarta asli adalah minoritas dan yang mayoritas adalah suku Jawa dengan logat bahasa yang beraneka ragam karena mereka orang-orang Jawa dari berbagai daerah. Di sini fungsi sosial harus fleksibel, karena ketika kebudayaan dari Plant 2 saya bawa ke Plant 4 banyak orang yang akan tersinggung dengan sikap dan cara saya yang biasa saya lakukan di Plant 2.
V.           Perpanjangan Kontrak
Kontrak kerja saya telah habis, saat itu tepat tanggal 15 September 2006 saya di panggil ke HRD Plant 4 tempat kedua saya bekerja di PT. ADM. Saya berfikir saya tidak akan diperpanjang kontrak karena saya merasa saya adalah karyawan yang di resend dari Plant 2 dan baru berpengalaman di Plant 4 hanya selama 4 bulan. Begitu juga yang terjdai dengan 16 teman saya yang manandatangani kontrak di PT. ADM bersama saya pada 15 September 2005 telah tereliminasi dengan beberapa catatan kerusakan yang fatal. Dan hal terakhir yang saya ingat di Plant baru saya ini, saya menghancurkan 2 rakitan engine dan transmisi yang saya tabrakkan ketika dua-duanya akan dipasang pada rangka mobil karena mengantuk saat shift 2 (kerja malam). Dan benar ternyata data itu tercatat dan dibacakan pada saya saat saya dipanggil ke HRD. Akan tetapi kebudayaan yang saya bawa dari Plant 2 telah menolong saya. Saya tetap diperpanjang kontrak dengan alasan saya tidak pernah mangkir ataupun ijin dari hari kerja, dan dalam catatan saya tidak pernah terlambat masuk kerja. Di Plant 2 saya dididik untuk berlomba dalam kedisplinan tersebut yang akhirnya menolong dan menutup kesalahan yang saya lakukan di Plant 4.
Berlanjut dengan title karyawan kontrak kedua berarti saya adalah senior dengan tanggung jawab yang lebih tinggi. Dua bulan kontrak kedua saya, saya diberi tanggung jawab untuk membimbing karyawan baru dengan pita orange OJT. Saya baru menyadari bahwa dulu pada saat OJT ternyata saya mengacaukan pekerjaan senior saya, karena akhirnya saya merasakan bahwa pekerjaan saya kacau karena saya membimbing karyawan OJT. Tidak ada yang heran ketika saya menjadi top skor memberhentikan line, karena memang hal itu akan sering terjadi pada setiap karyawan yang membimbing karyawan berlabel OJT. Akan tetapi ketepatan langkah yang diambil saat membimbing itulah yang menjadi penilaian bahwa saya bisa dinyatakan sebagai pembimbing kerja yang baik atau tidak. Ternyata satu pengalaman lagi saya dapatkan, setelah si OJT lancar pengawasan yang saya berikan mulai berkurang karena dia sudah mulai menguasai apa yang saya ajarkan. Pada saat itulah saya banyak belajar dari pos kerja lain untuk up-skill, mempelajari dan turun di pos kerja lain untuk menambah penguasaan alat dan komponen. Akan tetapi bukan prestasi yang saya kejar untuk menjadi karyawan tetap, hanya pengalaman, pengetahuan, dan sosialisasi yang saya butuhkan karena saya tidak pernah berencana untuk menjadi karyawan tetap di PT.ADM. Saya berencana untuk melanjutkan pendidikan dengan materi yang saya kumpulkan selama saya bekerja di sana. Motivasi dalam diri saya itu yang mendorong saya untuk berhemat dan tidak pernah macam-macam ketika saya bergaul dengan orang-orang di sana.
Pada saat Quality control yang dihadiri oleh para petinggi PT. ADM dan pimpinan-pimpinan dari PT. Astra International, dan waktu itu saatnya saya tau hukum sebab-akibat. Jika pekerjaan saya baik tanpa kerusakan fatal dan kelalaian maka bonus tahunan yang akan saya terima dalam satu tahun utuh dan akan diterima secara cuma-cuma, dan itu terjadi di tahun pertama saya dengan bonus utuh dan 0% kerusakan. Akan tetapi di tahun kedua, bonus saya harus terpotong sebanyak  25%  karena saya harus mengganti kerugian pada saat saya menghancurkan 2 unit engine siap pasang karena mengantuk. Tidak ada penyesalan, yang ada hanya belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak membuat kesalahan agar tidak menyesal karena rumus sebab-akibat berlaku. Itulah tanggung jawab dan kemandirian, jika berani membuat kesalahan maka harus berani menghadapi resikonya.
VI.        Surat Peringatan (SP)
Semua karyawan lapangan ataupun HRD maupun HO PT.ADM harus mematuhi peraturan yang berlaku di PT. ADM, ada pelanggarab yang biasa terjadi dan bisa dimaklumi, akan tetapia ada yang tidak bisa dimaklumi dan harus mendatangkan Surat Peringatan (SP). Saya belum pernah mendapatkan SP, jadi kurang lebih yang saya pernah tahu di PT. ADM adalah sebagai berikut :
1.      SP 1 : untuk pelanggaran yang ringan mengenai kelalaian ringan yang pernah dilakukan sebelumnya baik secara sengaja ataupun tidak dan mengenai kelalaian yang berhubungan dengan meniggalkan pekerjaan tanpa konfirmasi yang jelas.
Contoh yang pernah saya temui : tidur pada jam kerja saat line berhenti, mengoperasikan mesin atu robot di luar area yang ditentukan, merokok pada saat bekerja, merokok di area mudah terbakar dan ada peringatan tertulis, berjalan di jalur/rel mesin dan robot pada saat jam kerja, mengoperasikan alat tidak sesuai dengan fungsinya, membuat keributan/membuat onar.
Catatan : karyawan dengan SP 1 tidak dipanggil ke HRD secara khusus, memiliki data yang meberatkan sehingga tidak akan sampai pada kontrak berikutnya, jabatan dan level kerja tidak turun akan tetapi kehilangan ijin untuk up-skill.
2.      SP 2 : telah mendapatkan SP 1 satu dan melakukan kesalahan yang sama ataupun tindak lanjut dari SP 1 di mana resiko-resiko yang ada adalah akibat dari kelalaian-kelalaian pada SP 1.
Contoh yang pernah saya temui : berkelahi dengan sesama karyawan, kelalaian kontrol yang membuat komponen hilang, lolos checker RM hingga kerusakan sampai di show room (terlihat publik), pemasangan komponen paten yang salah, kebut-kebutan saat test drive dan mengoperasikan forklift.
Catatan : karyawan dengan SP 2 akan dipanggil secara khusus dengan diskors, dapat dipastikan tidak akan melanjutkan kontrak, jabatan dan level kerja diturunkan.
3.      SP 3 : tindak lanjut dari SP 1 dan SP 2 yang mengakibatkan kesalahan yang fatal ataupun kesalahan yang sangat fatal tanpa melalui SP 1 dan SP 2.
Contoh yang pernah saya temui : pemukulan terhadap atasan, salah area hingga mengakibatkan kecelakaan, menjatuhkan unit dari jig dan membahayakan karyawan dibawahnya, kesalahan system pengapian yang menyebabkan kebakaran di area bahan bakar.
Catatan : karyawan dengan SP 3 akan dikeluarkan dengan blacklist dan tidak akan diterima bekerja di jaringan Astra seluruh Indonesia, pengeluaran tanpa pesangon dan tanpa pakelaring (surat pengalaman kerja).

VII.     Akhir Masa Kerja
Sebelum akhir masa kontrak kedua saya lebih dulu dipanggil tiga bulan sebelumnya untuk wawancara kembali dan negoisasi di HRD kemudian berlanjut di Head Office. Saya memang sudah membangun rencana lain yang menurut saya lebih baik untuk masa depan saya. Saya berencana untuk membangun sebuah usaha untuk mendapatkan penghasilan dan bisa membiayai hidup serta perjalanan pendidikan yang saya rencanakan. Setelah wawancara itu saya kembali bekerja seperti biasanya dan masih dalam sikap profesional tanpa berfikir bahwa ketrikatan saya dengan PT. ADM akan segera berakhir. Pada tanggal 27 Juli 2007 saya datang ke HRD untuk mengurus pengunduran diri sebelum masa pengangkatan karyawan (sebelum masa kontrak kedua habis). Dan pada saat itu saya harus menyetujui bahwa saya akan mengundurkan diri tanpa pesangon, karena saya mengundurkan diri sebelum periode kontrak kedua habis. Dan saya menyetujui kesepakatan itu karena jika saya menunggu periode kedua kontrak kedua saya habis maka pendaftaran masuk ke Perguruan Tinggi yang saya tuju tentu sudah ditutup. Saya tidak pernah menyangka bahwa orang-orang yang biasa berhadapan dengan mesin dan robot bisa menangis ketika saya berpamitan dengan mereka semua. Di situ saya mengerti bahwa kerja sama tim (Team Work) bukan sekedar urusan profesi, ketika kami bekerja sama dalam suatu pekerjaan kita akan saling ketergantungan antara satu dengan yang lain dan akan mendjadi seperti satu keluarga apalagi ketika kami merasa satu nasib dalam perantauan. Satu lagi fungsi sosial yang saya dapatkan ketika saya masih berada dalam dunia industry khususnya bidang otomotif.
VIII.  Tips-tips aman

1.             Yang saya tuliskan dalam artikel diatas adalah pengalaman pribadi saya, jika anda calon karyawan astra maka ambil mana yang menurut anda baik dan abaikan apa yang menurut anda tidak baik termasuk rencana masa depan anda yang mungkin berbeda dengan rencana masa depan saya.
2.             Bekerjalah dengan menerapkan kedisplinan dan kecintaan anda terhadap pekerjaan anda untuk mencapai hasil yang maksimal dan itu akan membantu anda dalam mengatasi rasa lelah serta resiko kelalaian kerja
3.             Jalin relasi sosial yang baik dengan rekan kerja anda karena ada beberapa pengalaman yang mungkin tidak akan anda dapatkan selama anda menjalani pelatihan dan itu bisa anda dapatkan dari kerjasama tim
4.             Hati-hati karena PT. ADM berada di kota besar Jakarta, berdasarkan pengalaman saya banyak teman-teman di Astra yang menjadi korban pemalakan dan perampokan
5.             Kendalikan diri anda untuk menguasai lingkungan, jika anda mampu bersosialisasi dengan masyarakat sekitar, maka kemungkinan besar anda akan merasa nyaman dan aman
6.             Kenali lingkungan dengan baik dan jangan terpengaruh dengan berbagai bentuk godaan yang menyimpang, PT. ADM tidak jauh dari lingkungan yang mal adaptif (pemakaian narkoba khususnya ganja, dunia malam, balap liar, dan kekerasan)
7.             Hati-hati terhadap fungsi lawan jenis, tidak sedikit teman-teman di PT. ADM yang pulang dengan kekecewaan karena terbius oleh cinta yang bertahan sesuai dengan waktu kontrak kerja di PT. ADM
8.             Kenali baik-baik penawaran hadiah yang dilakukan oleh orang yang baru saja anda kenal, jangan sampai hadiah tersebut harus anda tebus dengan seluruh isi ATM anda
9.             Jangan menaruh curiga pada siapapun, waspada dan cukup hati-hati untuk anda tanamkan sendiri. Waspada bukan berarti curiga, berfikir positif namun tetap cermat dan hati-hati
10.         Jagalah ATM dan kartu Jamsostem anda dengan baik, karena suatu saat kartu itu akan anda butuhkan untuk mengurus keperluan anda
11.         Mohon maaf hanya sebagian kecil yang bisa saya tulis. Secara khusus, jika ada kekurangan mengenai artikel atau anda butuh pengalaman lebih lanjut anda bisa hubungi :
atau  facebook : Shava Dalam Tempurung
Saya bersedia berbagi pengalaman dengan anda sebatas apa yang saya ketahui tentang pengalaman saya di PT. ADM,

Terimakasih, Semoga bermanfaat.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons